Pages

Sunday, September 11, 2011

Koreksi Topografi (Topographic Correction)

Share on :

Artikel ini merupakan ringkasan dasar teori dari laporan  penulis saat melakukan Kerja Praktek di Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) yang sumbernya diterjemahkan dari jurnal internasional K.H. Law dan J. Nichol dari Department of Land Surveying and Geo-Informatics The Hongkong Polytechnic University. 

Koreksi topografi (topographic correction) disebabkan oleh pengaruh sudut elevasi matahari, sehingga menyebabkan perubahan pencahayaan pada permukaan bumi karena sifat dan kepekaan objek menerima tenaga dari luar tidak sama serta perubahan radiasi permukaan objek disebabkan oleh perubahan sudut pengamatan sensor. Perubahan radiasi permukaan objek menyebabkan perubahan kecerahan citra. Perubahan sudut penyinaran matahari terhadap zenit dan jarak matahari ke bumi mempengaruhi irradiasi matahari yang sampai ke objek di permukaan bumi, sehingga menyebabkan perubahan pada nilai piksel pada rekaman gambar di permukaan bumi. Oleh karena itu, koreksi topografi bertujuan untuk mengembalikan nilai keabuan elemen gambar (piksel) pada nilai yang sebenarnya (Purwadhi, 2008). Untuk melakukan koreksi nilai piksel tersebut diperlukan informasi mengenai besar dan arah sudut matahari (sudut zenit dan azimut matahari), serta informasi mengenai besar dan arah kemiringan piksel (slope dan aspek dari piksel).
Ada beberapa metode yang digunakan dalam koreksi topografi, yaitu Cosine Correction, Minnaert Correction, dan Normalization Method (Law and Nichol, 2007).
1.       Cosine Correction
Pada metode ini, permukaan bumi diasumsikan mempunyai sifat Lambertian, yaitu untuk menghasilkan sebaran pantulan yang sempurna, jumlah cahaya yang dipantulkan harus sama dari segala arah. Oleh karena itulah, koreksi Lambertian digunakan untuk mengoreksi perbedaan penyinaran yang disebabkan oleh orientasi dari permukaan bumi (Jones et al, 1988).
2.       Minnaert Correction
Pada tahun 1980, Smith et al memperkenalkan metode ini untuk menguji persamaan Lambertian. Persamaan Minnaert dikembangkan pada tahun 1941, menggunakan analisis fotometrik dari permukaan bulan (Justice and Holben, 1979).
3.       Normalization Method (C Correction)
Metode normalisasi mempunyai dua langkah, yaitu memodelkan kecerahan permukaan yang berhubungan dengan sudut penyinaran matahari menggunakan data DEM.  Data input yang diperlukan berupa sudut dan elevasi matahari yang diperoleh dari metadata satelit. Hasil model kecerahan permukaan tersebut mempunyai rentang nilai antara 0 sampai 255.


12 comments:

  1. salam mas danang,

    saya kebetulan sedang menyusun Tugas Akhir menggunakan citra satelit landsat. dalam prosesnya sy memerlukan koreksi atmosferik karena pengaruh relief. Kira2 apa ada langkah2 teknis yang bisa saya gunakan ? seperti data input yang digunakan, sofware dsb. Terutama Normalization methode diatas.
    Terima kasih

    ReplyDelete
  2. jika Anda mau, saya bisa memberikan soft laporan Kerja Praktek saya via email. saya membahas sedikit mengenai koreksi atmosferik meskipun tidak detail. mungkin bisa sedikit membantu.

    ReplyDelete
  3. wahhh...boleh mas danang, mungkin bisa dikirim ke email saya aristomodav@gmail.com
    terima kasih

    ReplyDelete
  4. Dear Mas Danang,

    Terima kasih atas kiriman tutorialnya mas, membantu sekali dan menambah wawasan. Setelah mengikuti tutorial mas danang ada beberapa hal yang mau saya tanyakan:
    1. Mengenai koreksi topo dengan dem apa resolusi dem penting untuk diperhatikan. Contoh sy pernah membaca bahwa untuk mengkoreksi landsat (resolusi 30m) harus menggunakan data ASTER GDEM (30m) karena resolusinya sama 30m, sedangkan dari tutorial mas danang menggunakan DEM SRTM untuk mengkoreksi citra SPOT?
    2. Maksud dari merubah nilai sampel spacing X dan Y jadi 30 m waktu langkah-langkah awal bagian export data dem ke geotiff itu apa ya? apa tiu untuk merubah resolusi dem nya jadi 30 m? (maaf saya masih awam)
    3. Dalam tutorial masdanang citra spot yang digunakan menggunakan 3 band, seandainya saya memerlukan 6 band apa yang perlu dilakukan apa mengulangi prosesnya 2 kali kemudian di satukan kemudian ?
    4. Kalau posisi SRTM dengan citra raster tidak match secara spasial,langkah apa yang perlu dilakukan ?

    terima kasih

    ReplyDelete
  5. mas Danang budi, boleh minta tutorialnya gak?
    buat pembelajaran juga mas,,
    email: dananknkstw11@yahoo.co.id

    ReplyDelete
  6. mas Danang budi, jika berkenan ilumnya dibagi hehe?
    buat pedoman saya ikut KP besok di LAPAN.
    email : m.atha.rabbita@mail.ugm.ac.id

    ReplyDelete
  7. Dear Mas Danang,
    Bolehkah saya meminta tutorial koreksi topografi untuk keperluan tugas kuliah. Jika berkenan tolong kirim ke email saya dorahutajulu@gmail.com
    Terimakasih sebelumnya

    ReplyDelete
  8. Mas danang Budi kalau boleh saya minta tutorial tentang koreksi topografinya mas... makasih
    email : kodokadventure@gmail.com

    ReplyDelete

  9. Selamat siang Mas,
    Saya saat ini sedang menyusun Thesis mengenai perubahan kerapatan kanopi hutan di area Gunung Kelud, kebetulan salah satu koreksi yang diperlukan adalah koreksi topografi. Apabila diperbolehkan saya minta tutorial tentang koreksi topografinya ya Mas.

    Terima Kasih.
    email : shafirahimayah@gmail.com

    ReplyDelete
  10. Selamat sore mas. Apakah saya boleh minta tutorial mengenai koreksi topografi untuk pembelajaran?

    Bila berkenan,boleh dikirimkan ke valentiansidikw@gmail.com
    Terimakasih

    ReplyDelete
  11. Selamat Siang mas Danang
    Jika berkenan membagi ilmunya, apakah saya boleh meminta tutorialnya dari apa yang sudah mas danang kerjakan. Terima Kasih
    bila berkanan bisa dikirimkan ke alamat email saya ayipriana@gmail.com

    ReplyDelete
  12. Salam kenal mas Danang.. izin mas, kalau boleh saya minta tutorialnya mas, karena sudah kesana kemari mencari belum ada pencerahan, kalau mas danang berkenan tolong kirim ke email saya prsdimas@gmail.com.. semoga mas danang sehat selalu

    ReplyDelete

Please write your comment here