Pages

Thursday, May 12, 2016

Korelasi Praktikum dalam Kuliah dengan Real Spatial Project

Share on :
Sumber gambar: https://www.reverbnation.com/realproject

Memasuki jurusan yang berkaitan dengan geospasial (Geodesi/Geografi) biasanya membuat kita menemui beberapa metode pembelajaran. Jika diklasifikasikan secara garis besar, dapat dikatakan metode itu berupa teori di kelas dan praktikum di lapangan atau laboratorium. Pembelajaran di kelas adalah tentang belajar mengenai teori dasar dari materi yang diajarkan, sedangkan praktikum lebih kepada penerapan dari apa yang dipelajari di kelas pada dunia nyata, atau sebut saja real project.
Harus dipahami, bahwa real project dapat dikatakan sebagai bentuk dan penerapan nyata dari apa yang kita pelajari saat praktikum. Standar praktikum dalam bidang spasial biasanya adalah belajar menggunakan alat-alat survei atau software pemetaan dengan teknis yang sudah ditetapkan, atau jika pengajar (bisa dosen maupun asisten dosen) ingin menganalisis kemampuan anak didiknya, maka dapat diberikan kasus yang lebih spesifik untuk dipecahkan. Setelah itu, mahasiswa diharuskan membuat laporan dari apa yang sudah dikerjakan dalam praktikum tersebut, yang skema dasarnya biasanya terdiri dari pendahuluan, dasar teori, metodologi, analisis, serta hasil dan kesimpulan.
Sebenarnya, itu adalah pembelajaran yang sangat efektif untuk membuat mahasiswa lebih melek dalam dunia kerja yang sesungguhnya. Satu yang pasti, kemampuan menggunakan alat atau software pemetaan jelas sangat dibutuhkan untuk mereka yang akan masuk ke dalam real spatial project. Hal itu berlaku untuk semua posisi, baik operator, koordinator, bahkan ketua tim. Operator sudah pasti wajib untuk mengetahui pengoperasian alat secara mendetail, juga pada kasus-kasus tertentu yang dapat terjadi –ini tentu membutuhkan pengalaman. Koordinator tak akan mampu me-manage anggotanya jika ia tak paham mengenai teknis. Ketua tim memang (idealnya) hanya akan berkoordinasi dengan koordinator saja, namun untuk orang yang berkaitan langsung dengan pemberi kerja, sepertinya akan susah jika ia sendiri tidak paham mengenai teknis pekerjaan yang dilakukan para operatornya.
Tak hanya soal menggunakan alat dan software, membuat laporan juga tidak kalah pentingnya. Teknis tak akan terekam dengan jelas dan mendetail jika tak didukung administrasi, bahkan seringkali administrasi jadi salah satu aspek yang lebih menonjol ketika menilai suatu progres pekerjaan. Administrasi yang rapi akan mendukung pekerjaan menjadi lebih terorganisir, dan pembuatan laporan merupakan salah satu komponen administrasi yang diperlukan dalam sebuah project.
Laporan bisa berupa laporan perencanaan (atau bisa juga disebut rencana detail) yang memuat seluruh rencana pekerjaan yang akan dilaksanakan. Di dalamnya terdapat detail peralatan dan personil yang disiapkan, strategi yang akan dilakukan, timeline pekerjaan, dan semua aspek yang perlu dipertimbangkan dalam menyusun rencana pekerjaan. Selain laporan pendahuluan, tentunya juga diperlukan laporan pekerjaan, yang menuliskan seluruh kegiatan yang sudah dilakukan, bisa per waktu tertentu atau per tahapan.
Sudah pasti, pembelajaran dengan metode praktikum akan sangat bermanfaat untuk mahasiswa yang nantinya akan masuk ke real spatial project. Jadi, jika ada kemungkinan rezekimu nantinya bersumber dari sana, masih mau malas kuliah? :)   

No comments:

Post a Comment

Please write your comment here