Pages

Sunday, December 15, 2013

Wanita, Cocokkah Masuk Jurusan Geodesi?

Share on :

Dari blog yang saya kelola ini, beberapa kali saya mendapatkan email dan chat yang menanyakan bagaimana bidang Geodesi itu di lapangan kerja. Beberapa adalah siswa / siswi SMA atau SMK jurusan Survey Pemetaan yang ingin lebih tahu mengenai salah satu opsi masa depan mereka ini. Jika ditelusuri dengan lebih tekun, sebenarnya pembaca bisa mendapatkan jawabannya dengan lebih mendetail di blog ini tanpa perlu saya jelaskan secara personal. Tapi saya memaklumi jika yang menanyakan adalah siswa sekolah yang belum mengerti begitu dalam tentang ilmu yang saya jabarkan di sini, dan saya dengan senang hati memberikan pengertian lebih lanjut apa saja yang dipelajari di jurusan Teknik Geodesi.
Artikel ini akan memberikan referensi secara lebih khusus, yaitu mengenai peluang wanita dalam karir sebagai seorang (calon) geodet. Sudah pasti Geodesi adalah ilmu engineering, dan fakta bahwa Geodesi adalah salah satu cabang ilmu kebumian yang sebagian ranah pekerjaannya adalah ‘lapangan’, tentu membuat kaum hawa pikir-pikir untuk masuk jurusan ini. Tapi fakta bahwa hampir separuh angkatan saya cantik-cantik, dan kenyataan jika sudah banyak wanita yang memasuki jurusan ini, adalah suatu bukti bahwa kini perempuan sudah tidak tabu jika menjajaki karir sebagai geodetic engineer. Tapi jangan tanyakan kepada geodet-geodet yang sudah senior (sekitar angkatan 80-90an), karena kondisi Teknik Geodesi pada masa lalu jauh dari sekarang. Dulu Geodesi memang lebih dominan di lapangan dan hitungan manual karena keterbatasan software. Sekarang, kita bisa dibuat kagum dengan estetika peta yang hanya bisa dibuat dengan beberapa ‘klik’ saja. Tentu saja tidak semudah itu menguasai software, butuh ilmu dasarnya, tapi paling tidak pemetaan kini bisa dilakukan dengan jauh lebih mudah dibandingkan masa lalu. So, jangan heran, ketika Anda menanyakan proporsi gender kepada para geodet yang sudah senior, Anda akan mendapatkan jawaban bahwa wanita di kelasnya saat kuliah dulu hanya sejumlah tiga orang.
Wanita bisa saja melakukan pekerjaan yang biasa dilakukan pria seperti surveyor, tapi kebanyakan lebih suka bekerja kantoran dengan pakaian rapi dan wangi di depan komputer. Pilihannya tidak sulit, berikut yang bisa menjadi pertimbangan seorang wanita yang baru saja menerima ijazah sebagai seorang sarjana Teknik Geodesi.
1.      Pegawai Negeri Sipil (PNS)
Banyak instansi yang membutuhkan geodetic engineer, beberapa diantaranya –berdasarkan lowongan yang dibuka pada tahun 2013 ini– adalah Badan Informasi Geospasial (BIG), Badan Pertanahan Nasional (BPN), Dinas Pekerjaan Umum (PU), dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Sekedar informasi, tingkat persaingan menjadi PNS memang sangat ketat, tapi dengan fakta bahwa lulusan Geodesi masih jauh lebih sedikit dibandingkan dengan bidang keilmuan lain, lowongan untuk lulusan Geodesi sedikit lebih mudah untuk ditembus.
2.      Konsultan Pemetaan
Konsultan pemetaan –perusahaan yang menyediakan jasa pemetaan– juga bisa menjadi opsi untuk wanita dalam merintis karir. Kemampuan yang diperlukan untuk bekerja di konsultan biasanya lebih ke kemampuan software, yang pada umumnya lebih spesifik ke Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis (SIG).
3.      Data Processor
Jika Anda seorang wanita dan memang ingin bekerja di bidang pertambangan atau offshore, Anda tidak harus menjadi seorang surveyor. Anda bisa bekerja di kantor dan berada di balik monitor untuk menerima dan mengolah data yang didapatkan para surveyor di lapangan.
4.      Koordinator Surveyor
Ada opsi lain jika Anda bekerja di bidang konstruksi (perusahaan kontraktor), yaitu menjadi koordinator surveyor. Anda tidak harus selalu berada di lapangan, tapi bisa sesekali saja sambil mengolah data-data yang lebih bersifat administratif, seperti kalibrasi alat atau pengolahan data elevasi dan koordinat.
5.      Dosen
Inilah salah satu opsi yang sangat baik bagi seorang geodetic engineer wanita, yaitu menjadi pengajar atau dosen. Sudah pasti ini adalah pilihan yang menarik, karena ini adalah pekerjaan jangka panjang, dan tentunya menjadi pekerjaan yang ideal bagi seorang calon istri dan ibu, terkait waktu mereka yang lebih ‘bebas’ untuk dibagi dengan keluarga tercinta.
6.      Pengusaha
Wanita juga bisa menjadi pengusaha di bidang geospasial, seperti mendirikan konsultan pemetaan. Sudah bukan rahasia jika peluang bisnis di bidang ini lebih berpotensi dikarenakan masih sedikitnya pengusaha yang bergerak di bidang serupa. Padahal keterbutuhan akan perusahaan yang bergerak di jasa pemetaan sudah sangat besar. Paling tidak itulah pernyataan Badan Informasi Geospasial, yang memiliki banyak sekali project besar untuk tahun 2014 nanti.
Itulah beberapa opsi untuk wanita yang sudah memilih Geodesi sebagai pilihan hidupnya. Banyak kawan saya sudah menjalaninya, sehingga sedikit banyak saya tahu bagaimana kehidupan seorang geodet wanita itu. Tenanglah, walaupun seorang engineer, saya tidak merasa mereka kehilangan naluri mereka sebagai seorang wanita, seperti sifat yang lembut, pandai menyajikan masakan berkelas, atau heboh saat berbelanja. Dan yang jauh lebih penting, mereka tidak kehilangan insting mereka sebagai seorang calon istri yang baik meskipun bekerja di bidang yang ‘keras’. So, jangan risau, dunia geodet kini jauh lebih menerima feminisme. Paling tidak di masa kini, ketika teknologi membuatnya menjadi demikian.

3 comments:

Please write your comment here