Pages

Friday, September 28, 2012

Mitos yang Salah tentang Kebersamaan di Dunia Perkuliahan

Share on :

Tulisan ini di luar topik utama blog ini, tapi tidak haram dimasukkan ke sini karena yang aku tulis masih berada dalam komponen perkuliahan di jurusanku. Tulisan ini diawali dari sebuah pertanyaan pernahkah Anda sewaktu pertama kali kuliah dicekoki doktrin bahwa masa indahnya keakraban hanyalah masa SMA dan Anda hanya akan mendapati orang-orang egois di dunia perkuliahan? Jika iya, dan Anda memang “berhasil” membuktikannya, mungkin Anda lah yang kurang beruntung. Karena sistem ideal kaderisasi kampus sebenarnya tidak hanya ditujukan untuk pengembangan karakter yang berbasis individu, namun juga mencetak sebuah angkatan yang kompak dan berbasis pada kekeluargaan intern maupun eksternal dengan angkatan lainnya.
Mungkinkah? Di Fakultas Teknik pada khususnya, hal itu sangat mungkin. Caranya yaitu dengan proses yang oleh sebagian orang dianggap sebagai perpeloncoan. Ya, mungkin sedikit yang sadar, bahwa “kekerasan” dalam pendidikan kaderisasi (bahasa umumnya OSPEK) angkatan nantinya akan menghasilkan kebersamaan yang luar biasa. Sebuah kebersamaan yang melahirkan kekeluargaan yang tidak tergantikan, bahkan selamanya.
Yang disebut “kekerasan” itu memang bukan kekerasan secara fisik. Namun lebih kepada mengajarkan bagaimana bekerja di bawah tekanan yang menuntut kebersamaan dan rendahnya ego. Ketika sekelompok orang diberi kewajiban yang harus diselesaikan dalam waktu singkat dan membutuhkan kerja sama seluruh anggota, maka akan tercipta sifat toleransi yang luar biasa. Jika hal itu dilakukan terus-menerus, maka pada akhirnya timbul sebuah rasa kebersamaan yang tidak hanya muncul saat bekerja saja, namun setiap saat.
Kenapa di awal aku menyebutkan bahwa yang berpotensi memiliki itu adalah anak-anak Teknik? Karena di Teknik pada umumnya –Geodesi pada khususnya– kewajiban bekerja sama memang diperlukan dalam perkuliahan. Jarang ada praktikum yang bisa dikerjakan sendiri. Bahkan tugas-tugas kebanyakan diberikan secara kelompok. Orang egois akan mati kutu di Teknik, sekalipun dia punya kejeniusan yang mampu memberikan nilai A pada semua mata kuliahnya. Dunia lebih luas dari sekedar IP, bos.
So, jika Anda mahasiswa baru, jangan ragu untuk menerima challenge yang diberikan proses kaderisasi di kampus. Hasil dari proses itu akan terlihat setelah proses berakhir, dan akan bertahan sampai lulus, sampai masing-masing mempunyai pekerjaan, jabatan, bahkan pasangan hidup. Itu semua akan sangat indah nantinya. Selama proses yang ada tidak melanggar etika, berikan yang terbaik dan buktikan kita sanggup melewatinya. Kecuali yah, kalau Anda memang berniat hidup sendiri di kampus. :)  

2 comments:

Please write your comment here