Jika pada
artikel sebelumnya kita membahas klasifikasi ground dan non-ground,
artikel ini akan membahas tahap selanjutnya, yaitu pemodelan bangunan 3D. Ini
adalah proses lanjutan dari hasil klasifikasi non-ground LiDAR yang
meliputi klasifikasi bangunan dan vegetasi serta vektorisasi model 3D. Semua
proses menggunakan software Terrasolid.
Monday, March 23, 2020
Saturday, March 21, 2020
Klasifikasi Ground dan Non-ground pada Data LiDAR
Selain foto udara dan citra satelit, LiDAR
merupakan salah satu alternatif data dasar yang dapat digunakan dalam proses
pemetaan. Teknologi LiDAR merepresentasikan permukaan bumi secara tiga dimensi dengan merekam posisi dan elevasi dari titik target dalam
bentuk koordinat x, y, z. Oleh karena itu, berbeda dengan data foto udara atau
citra satelit yang berformat raster, LiDAR adalah sekumpulan data point
cloud dengan kerapatan tertentu sehingga membentuk representasi permukaan 3D
yang dapat diproses untuk keperluan pemetaan atau hal lainnya.
Sunday, July 2, 2017
Perjuangan dan Perjalanan Menuju ISPRS Hannover Workshop 2017
Sumber gambar: https://www.ipi.uni-hannover.de/hrigi17.html
ISPRS,
singkatan dari International Society for
Photogrammetry and Remote Sensing. Sesuai namanya, organisasi internasional
ini sudah pasti menaungi para peneliti, akademisi, profesional, atau siapapun
yang tertarik dan menggeluti dunia fotogrametri atau penginderaan jauh. Aku
pertama kali mengetahui tentang organisasi ini saat bergabung dengan tempat
kerjaku sekarang, Badan Informasi Geospasial (BIG) sekitar tiga tahun yang
lalu.
Thursday, May 11, 2017
Konsep Pembentukan Model 3D Menggunakan Data SAR
Sumber gambar: http://www.dlr.de/dlr/en/desktopdefault.aspx/tabid-10377/565_read-436/#/gallery/350
Salah satu tahap dalam pemetaan rupabumi (RBI) adalah digitasi, yaitu ekstraksi fitur rupabumi dari data dasar yang digunakan. Data dasar tersebut dapat berupa foto udara maupun citra satelit, tergantung dari skala dan spesifikasi data yang akan dihasilkan.
Mengedit DEM Menggunakan TIN Editing di ArcGIS
Sumber gambar: https://helpdesk.louisiana.edu/arcgis
Dalam pembentukan DEM, selain akurasi yang
direpresentasikan dalam kualitas hasil statistik, juga perlu diperhatikan
mengenai kualitas visualnya. Kualitas visual berkaitan dengan tampilan DEM yang
baik, namun tetap harus memperhatikan realitas topografi yang sebenarnya, dalam
artian editing DEM untuk kepentingan
kualitas visual tidak boleh terlalu mengubah kondisi topografi secara
signifikan hingga tidak lagi merepresentasikan kondisi sebenarnya.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Labels
- Alternatif Kuliah (2)
- Aplikasi Keilmuan (15)
- Motivasi (42)
- Teori (17)
- Tips dan Tutorial (55)




